Tampilkan postingan dengan label PENYAKIT GIGI DAN MULUT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENYAKIT GIGI DAN MULUT. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2011

HALITOSIS


Halitosis atau dalam keseharian kita mengenalnya sebagai bau mulut. Sepertinya sepele namun bisa memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan pergaulan sehari-hari। Biasanya teman atau orang lain enggan untuk menyampaikan jika rekannya memiliki bau mulut yag tidaksedap,mereka cenderung untuk menjauh ataupun berurusan seperlunya saja.Orang cenderung mengatasi bau mulut tidak sedap dengan cara yang instan,misalnya dengan memakai obat kumur , mengunyah permen maupun menggunakan spray pengharum mulut, namun hal ini hanya akan efektif untuk beberapa saat, tidak mengatasi masalah yang sebenarnya.

Bau mulut tidak sedap dapat disebabkan karena faktor dari luar yaitu makanan dan minuman, maupun dari dalam badan kita sendiri. Makanan yang berbau menyengat akan mempengaruhi bau mulut, misalkan saja, durian, pete, jengkol, bawang putih, alkohol, rokok dan sebagainya. Bau yang bersumber dari makanan ini bersifat sementara, seiring dengan proses metabolism dalam badan kita bau ini akan hilang dengan sendirinya. Namun jika dalam pekerjaan kita sehari-hari berhadapan dengan orang banyak, ada baiknya kita bijak dalam memilih makanan yang dikonsumsi.

Bau mulut tak sedap sebenarnya merupakan sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuh kita. Bau tersebut berasal dari hasil metabolisme kuman yang menghasilkan gas yang berbau tidak sedap. Penyebab bau mulut yang berasal dari tubuh kita sendiri dapat dibedakan yaitu penyebab local dan penyebab sistemik. Penyebab local diartikan bahwa sumber bau tak sedap berasal dari rongga mulut, sedangkan penyebab sistemik adalah bau mulut yang merupakan manifestasi adanya infeksi di bagian dalam tubuh.

Keadaan rongga mulut yang menyebabkan bau tak sedap misalnya adalah adanya karang gigi, gigi berlubang maupun infeksi rongga mulut lainnya. Adanya infeksi di sekitar hidung telinga dan tenggorokan juga menimbulkan bau mulut yang tidak sedap. Penyebab sistemik yang menimbulkan bau nafas tak sedap misalnya adanya infeksi di rongga dada dan perut,misalnya infeksi paru-paru, saluran cerna dan liver. Beberapa penyakit tertentu juga memberikan bau tidak sedap seperti diabetes mellitus dan infeksi ginjal.

Untuk menentukan penyebab bau mulut yang tidak sedap, maka perlu disingkirkan terlebih dahulu kemungkinan adanya faktor local, dengan memperbaiki kesehatan gigi dan mulut. Penambalan gigi berlubang, pencabutan gigi yang sudah mati dan pembersihan karang gigi perlu dilakukan secara seksama. Jika setelah dilakukan masih juga berbau kita curigai adanya infeksi di sekitar hidung, telinga dan tenggorokan. Jika bau mulut tak sedap masih juga dijumpai, maka kita perlu mencurigai kemungkinan bau tak sedap berasal dari adanya infeksi dari bagian dalam tubuh kita, untuk itu kita perlu memeriksa lebih teliti ke dokter yang lebih kompeten, dalam hal ini dokter penyakit dalam.

Secara umum ada beberapa tips untuk kita menjaga agar terhindar dari bau nafas tak sedap

1.Hindari makanan yang berbau tajam

2. Hentikan kebiasaan merokok

3. Banyak minum air putih

4. Berpola makan yang sehat, hindari makanan manis melekat

5. Banyak makan buah yang berair dan berserat

6. Gunakan kedua sisi rahang untuk mengunyah

6. Menggosok gigi secara tepat dan teratur pagi sebelum makan, dan malam sebelum tidur.

7. Secara rutin 6 bulan sekali control ke dokter gigi, lakukan pembersihan karang secara rutin, dan lakukan penambalan gigi berlubang sedini mungkin.


Rabu, 12 Agustus 2009

KARANG GIGI DAN BAHAYANYA








Karang gigi diartikan sebagai endapan keras yang berwarna putih kekuningan sampai hijau kehitaman yang menempel pada permukaan gigi, restorasi maupun pada gigi palsu. Hampir sebagian orang memiliki karang gigi di mulutnya dengan tingkat keparahan yang berbeda. Sampai saat ini karang gigi dan penyakit yang diakibatkannya, merupakan penyebab terbesar kedua hilangnya gigi, setelah karies.

Bagaimana karang bisa terbentuk?

Plak yang menempel pada permukaan gigi kita terdiri atas, air ludah, sisa makanan dan bakteri. Plak yang tak dibersihkan akan menerima timbunan calsium yang berumber dari air ludah dan cairan gusi, yang akhirnya membentuk karang. Daerah yang merupakan muara kelenjar ludah mayor akan lebih mudah terjadi karang gigi yaitu di permukaan gigi rahang bawah yang menghadap lidah, dan permukaan gigi geraham atas yang menghadap ke pipi. Sedangkan cairan ludah akan membentuk karang gigi pada daerah di perbatasan gusi dengan gigi.

Dapatkah karang gigi dicegah?

Mencegah 100% mungkin tidak, mengingat proses terjadinya sangat alami. Namun dengan cara menggosok gigi yang benar dan pola makan yang baik, yaitu mengurangi makanan manis melekat dan memperbanyak sayur dan buah yang berserat, akan menghambat pertumbuhan karang gigi.

Apakah akibat karang gigi?

Penyakit pertama sebagai akibat karang gigi adalah radang gusi, pada saat ini di masyarakat hampir semua orang menderita radang gusi dengan tingkat kepaahan yang bermacam-macam. Tanda-tanda dari radang gusi adalah, gusi berwarna merah mengkilat, licin, tidak rapi, nampak menggembung dan pada keadaan yang parah biasa disertai pendarahan bila disentuh, bahkan perdarahan spontan pada keadaan yang lebih parah. Radang gusi yang tak dirawat akan berlanjut menyebar ke jaringan pendukung gigi, khusunya selaput periodontal yang ditandai rasa linu dan tidak nyaman waktu digigitkan, lebih lanjut lagi dapat menyebabkan kerusakan tulang alveolar. Tulang alveolar adalah bagian dari tulang rahang tempat tertanamnya akar gigi. Pada keadaan ini gigi akan goyang, yang jika dibiarkan akhirnya gigi akan lepas dengan sendirinya. Akibat lain yang tak kalah mengganggu adalah bau mulut yang tidak sedap, atau halitosis.

Apakah karang gigi bisa menyebabkan gigi sensitif/linu?

Karang gigi yang tertimbun pada leher gigi kita akan menyebabkan gusi kita mengecil atau resesi akibatnya bagian leher gigi yang harusnya tertutup gusi menjadi terbuka dan sangat sensitif terhadap suhu dan sentuhan menjadi

Bagaimana mengatasi radang gusi?

Untuk mengatasi radang gusi dan penyakit periodontal lainnya, dengan menghilangkan sumbernya yaitu karang gigi. Karang gigi tidak bisa dihilangkan dengan menggosok gigi biasa. Pembersihan karang gigi bisa dilakukan di sarana pelayanan kesehatan gigi menggunakan alat khusus yang disebut skaler. Untuk radang gusi yang ringan dengan poembersihan karang gigi, biasanya akan membaik dengan sendirinya dalam 3 sampai 5 hari. Namun pada kasus yang sedang sampai berat diperlukan pemberian obat-obatan untuk mengatasi radang gusi.


















Sabtu, 01 Agustus 2009

PERAWATAN GIGI BERLUBANG



Penyakit gigi dan mulut terbesar yang dijumpai adalah gigi berlubang, atau karies gigi. Proses karies diawali karena adanya pelarutan email oleh zat asam yang merupakan hasil fermentasi sisa makanan oleh bakteri dalam mulut. Gigi kita selalu dibasahi air ludah yang mudah ditempeli sisa makanan dan kuman atau kita sebut plak. Apabila plak lama berada dalam mulut kita maka ada kesempatan bakteri untuk melakukan fermentasi. Agar gigi tidak berlubang, plak tidak boleh lama berada dalam rongga mulut, perlu dibersihkan secara periodik, baca juga artikel tentang gosok gigi.



Selain gosok gigi , pada anak anak bisa dilakukan perawatan untuk mencegah gigi berlubang, yaitu:
1. topikal aplikasi, yaitu melapisi permukaan gigi dengan fluor.
2. perawatan fissure sealant yaitu menambal cekungan gigi yang dalam yang merupakan titik rawan terjadinya awal karies, biasanya dikerjakan pada gigi geraham yang baru tumbuh.



Karies yang mengenai lapisan email biasanya belum menimbulkan keluhan. Karies yang sudah mengenai lapisan dentin bisanya mulai linu, dan ketika ruang saraf gigi terbuka rasa sakit biasanya tidak tertahankan lagi, kadang-kadang disertai pembengkakan. Jika dibiarkan tidak dirawat akhirnya gigi menjadi mati dan tidak lagi terasa sakit kecuali infeksinya mulai menyebar ke jaringan pendukung gigi. Gigi yang berlubang pada kedalaman email dan dentin bisa dirawat dengan melakukan penambalan, sedangkan lubang gigi yang mencakup ruang saraf gigi bisa dilakukan perawatan saraf gigi atau perawatan saluran akar asallkan memiliki struktur yang masih bagus. Sedangkan gigi yang sudah mati dan tidak mungkin lagi perawatan saluran akar, lebih baik dicabut, karena merupakan sumber infeksi, meskipun giginya sendiri tidak sakit namun dapat menyebabkan penyakit di tempat lain.

Kamis, 23 Juli 2009

GERAHAM 3 SI BUNGSU YANG SUKA BERULAH


Wulan berbaring tergolek dikamar kosnya, membayangkan teman-temannya yang sedang menghadapi soal ujian di kampus tempatnya menimba ilmu. Seandainya tidak sakit tentu dia juga tengah berjuang dengan soal-soal ujian semester, dia yakin akan memperoleh hasil yang baik karena telah mempersiapkannya diri jauh-jauh hari. Tapi ada daya, terpaksa Wulan hanya bias termenung di kamarnya. Tangannya memegang pipinya yang membengkak. Kepalanya pusing, badannya demam ,sesekali dia menyeringai menahan sakit. Ada sedikit penyesalan di hatinya mengapa tidak dari awal ia berobat ke dokter gigi. Sebagai anak kos ia berusaha menghemat pengeluaran, sama sekali ia tak curiga rasa tak nyaman akhir-akhir ini yang dirasakan di gusinya paling ujung bersumber dari gigi, karena selama ini dia selalu menjaga kebersihan giginya dengan baik. Sehingga tak satupun giginya yang berlubang. Dari hasil pemeriksaan dokter gigi kemarin sore dia mendapat keterangan bahwa gigi geraham bungsunya akan tumbuh.
Sebenarnya kasus seperti di atas tak perlu ter jadi seandainya Wulan memahami bahwa masa pertumbuhan gigi tetapnya belum selesai. Pada umumnya orang menganggap bahwa dengan berakhirnya masa kanak-kanak, kurang lebih umur 13 tahun pertukaran gigi susu sudah selesai, padahal sebenarnya proses pertumbuhan gigi tetap baru selesai dengan ditandai tumbuhnya gigi geraham ke-3. atau yang biasa dikenal dengan geraham bungsu. Pada keadaan normal gigi geraham bungsu ini tumbuh pada akhir masa pertumbuhan yaitu sekitar umur 17 – 18 tahun, walaupun pada sebagian orang pertumbuhannya sering terlambat bahkan ketika telah memasuki usia diatas 30 tahun.
Gigi geraham bungsu tumbuh dibelakang gigi geraham ke-2 pada setiap bagian rahang atas maupun rahang bawah. Namun yang sering menyebabkan gangguan rasa sakit yaitu geraham bungsu pada rahang bawah. Karena waktu tumbuhnya yang terakhir seringkali ruang yang tersisa tidak cukup untuk tumbuh gigi tersebut, sehingga terjadi impaksi yaitu gigi yang tak muncul sempurna, baik terhalang oleh tulang maupun oleh jaringan lunak.
Secara teori impaksi gigi geraham bungsu bisa disebabkan oleh faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor lokal yang diduga bisa menjadi penyebab terjadinya impaksi gigi adalah ketidakberaturan posisi dan tekanan dari gigi yang berdekatan, kepadatan jaringan tulang di sekitar gigi, peradangan khronis yang menyebabkan penebalan dari jaringan mukosa di sekitar gigi, kekurangan ruang akibat kurang berkembangnya rahang yang hal ini sering dikaitkan adanya perubahan pola makan masyarakat modern yang lebih lunak dibandingkan pada masyarakat jaman dahulu, letak benih gigi yang salah dan juga bentuk gigi yang abnormal. Sedangkan faktor sistemik menurut teori Berger dibedakan pula menjadi sebab Prenatal dan Postnatal. Sebab Prenatal yaitu karena keturunan, dimana pada orang tua yang impaksi anaknya juga mempunyai kecenderungan yang sama dan juga bisa disebabkan karena perkawinan antar suku yang berbeda dimana ukuran gigi menurun dari orang yang giginya besar, sedangkan ukuran rahang kecil menurun dari orang tua satu lagi, sehingga terjadi kekurangan ruang. Sebab postnatal yaitu semua keadaan yang muncul setelah kelahiran yang menghambat pertumbuhan rahang, misalnya karena dideritanya penyakit-penyakit seperti, Richetsia, Anemia, Siphilis bawaan, TBC, Disfungsi kelenjar endokrin dan keadaan malnutrisi.
Posisi gigi geraham bungsu juga sering mengalami kelainan, bisa vertikal, miring ke depan mesioanguler, miring ke belakang distoanguler maupun horizontal. Posisi gigi geraham bungsu yang tidak normal menyebabkan kotoran di sekitar gigi tersebut susah untuk dibersihkan , yang pada akhirnya akan menyebabkan gangguan lebih lanjut, diantaranya infeksi jaringan gusi di sekitar gigi tersebut atau disebut operculitis yang ditandai dengan rasa nyeri, demam, kadang-kadang disertai pembengkaan dan gangguan membuka mulut, kondisi ini bila tidak ditangani dengan tepat bisa berlanjut menjadi fase akut yang lebih parah yaitu phlegmon yang untuk perawatan lebih lanjut pasien harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Unuk pengobatannya perlu diberikan antibiotika dan penahan rasasakit, untuk mengurangi bau mulutboleh diberikan obat kumur. Proses karies mungkin juga terjadi pada gigi geraham tiga dan bisa melibatkan gigi geraham dua di depannya, serta menimbulkan bau nafas tak sedap halitosis. Sedangkan karena posisi yang tidak normal seringkali menekan sistem persyarafan yang menyebabkan gangguan pendengaran yang mendengung tinnitus aurium, mata sering berair, serta nyeri kepala. Akibat lebih jauh, meskipun jarang terjadi gigi geraham tiga yang impaksi merupakan faktor resiko untuk terjadinya kista maupun tumor yang bersumber dari gigi.
Satu-satunya cara perawatan terhadap gigi geraham tiga yang mengalami impaksi adalah dengan pencabutan. Namun karena posisinya yang terhalang oleh tulang maupun jaringan lunak maka melakukannya dengan operasi gigi atau Odotectomy yang biasanya cukup dengan pembiusan lokal, dimana penderita terlebih dahulu diminta untuk menjalani pemeriksaan rontgen foto, agar dapat diketahui dengan pasti posisinya sehingga dapat ditentukan teknik operasi yang paling tepat. Adakalanya gigi perlu dipecah menjadi beberapa bagian untuk bisa diambil secara keseluruhan.
Ada beberapa keadaan yang merupakan kontra indikasi dimana tindakan Odontectomy tidak boleh dilakukan yaitu pada keadaan dimana terdapat peradangan akut, dan pada pasien-pasien yang kondisinya tidak mengijinkan yaitu pasien dengan kelainan jantung, hipertensi, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, penyakit hepatitis, kelainan darah dan beberapa penyakit lain.
Setelah dilakukan tindakan Odontectomy, kadang- kadang dijumpai beberapa komplikasi, meskipun hal itu tidak sesalu terjadi. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah , pembengkakan pada daerah operasi yang biasanya disertai kesulitan membuka mulut, hal ini dikarenakan trauma yang diterima jaringan di sekitar gigi, namun hal ini bersifat sementara yang akan hilang dalam beberapa hari dengan pemberian obat antibiotika dan antiinflamasi. Meskipun jarang terjadi pernah dilaporkan adanya pasien yang mengalami paresthesi (mati rasa) pada bibir bawah atau lidah pada sisi yang dilakukan Odontectomy, hal ini disebebkan adanya cedera saraf yang yang mensarafi lidah dan bibir, biasanya keadaan ini akan pulih dalam beberapa hari sampai beberapa minggu, namun pasien dianjurkan untuk dapat kontrol sehingga dapat dipantau perkembangan perbaikan sarafnya, yang ditandai dengan semakin sempitnya daerah yang mengalami mati rasa. Komplikasi lainnya adalah perdarahan, biasanya dokter gigi telah melakukan antisipasi dengan melakukan penjahitan pada luka operasi, namun begitu ada baiknya pasien harus mengerti dan mematuhi instruksi pasca bedah agar bisa meminimalkan resiko perdarahan dan resiko lainnya pasca tindakan bedah mulut yaitu:
1. Pembengkaan atau perubahan warna adalah hal biasa. Gunakan kompres es dengan tekanan ringan pada bagian luar wajah pada hari dilakukan tindakan.(20 menit dikompres, 5 menit dilepas)
2. Gigit tampon pada daerah operasi, darah merembes adalah normal , jika perdarahan bertambah tukar tampon tekan kuat kira-kira 15 sampai 30 menit, jika tidak ada tanda-tanda berhenti hubungi dokter gigi.
3. Jangan berkumur-kumur, merokok atau gerakan seperti menghisap, minum atau makan yang panas-panas dan jangan melakukan aktifitas fisik yang berat (misal olah raga) pada hari dilakukan tindakan, karena akan memperbesar resiko terjadinya perdarahan pascaoperasi.
4. Jangan memainkan luka operasi dengan jari maupun ujung lidah karena bisa menyebabkan terlepasnya jahitan yang memicu terjadinya perdarahan. Disamping itu jari dan lidah kita merupakan sumber kuman untuk terjadinya infeksi pada luka operasi.
5. Makan makanan yang lunak pada sisi yang tidak dilakukan tindakan.
6. Keesokan harinya kumur dengan air garam hangat, bila memungkinkan gosok gigi dengan pelan kecuali pada daerah operasi
7. Minum obat yang diberikan dokter gigi sesuai aturan.
Pemahaman mengenai fase pertumbuhan gigi tetap diharapkan akan dapat mengurangi resiko sakit yang sebenarnya bisa dihindari sehingga kita tidak perlu kehilangan momen maupun kesempatan yang penting dalam hidup kita. Begitupun dengan mengetahui resiko yang mungkin muncul, kita dapat dengan cepat mengambil langkah yang tepat dalam perawatan yang berkaitan dengan gigi geraham bungsu.